Terbunuhnya Amirul mukminin Umar bin Khatab


Tidak dapat dipungkiri, pengabdian Umar bin Khatab r.a. selaku khalifah menjadi sebuah “prasati” yang membuat namanya terukir dengan tinta emas dan dikasihi, dihormati serta dipatuhi rakyatnya. Tidak hanyta itu, keputusannya menempatkan orang orang yang capable (tepat) diwilayah kekuasaan islam dan kebijakanya yang menguntungkan rakyat setempat, ternyaata ternyata semakin memperkokoh persatuan islam.
Keserhanaan, keadilan dan kegemilangan filkiran menyatu dalam karakter pemerintahan dan menjadi jubah kebesaran dalam menjalankan roda kekhalifahan.
Dibalik kesejahteraan, keadilan, dan kebijaksanaan Umar bin Khatab dalam memerintah, terdapat segelincir orang yang tidak puas dan memendam dendam karena negaranya telah taklukan islam, yaitu orang orang Persia yang berada dimadinah. Kebaikan umar memberikan kebebasan kepada mereka untuk tinggal dimadinah, pada gilirannya menjadi “ duri dalam daging ” yang membawa bencana besar bagi umat islam dengan Terbunuhnya Amirilmukminin Umar bin khatab.

Dzulhijjah, tahun 23 H, awan kelabu menutupi langit madinah. Rona kesedihan dan isak tangis disertai tetes air matamenyelimuti wajah wajah kuyu penduduk madinah. Sekuntum melati kejayaan gugur ke bumi bersimbah darah menyisakan sepenggal kepedihan dalam sanubari umat islam. Umar bin Khatab, khalipah nan sahaja ini wafat setelah ditikam Abu Lu’luah Fairuz (seorang budak yang berasal dari Persia) ketika mengimami umat muslimin shalat subuh.
Keadaan berubah menjadi kacau dan sebagian Jemaah berupaya menangkap Abu Lu’luah. Mengetahui keselamatanya terancam, Abu Lu’luah tidak tinggal diam. Pisau dalam gengamanya disabetkan ke-kiri dan ke-kanan, hingga 12 orang terkena tikamanya. Menyadari dirinya akan dibunuh setelah berhasil diringkus, Abu Lu’luah bunuh diri dengan pisau dalam genggamanya.
Tikaman yang bertubi tubi pada tubuh Khalifah Umar bin Kahatab, ternyata mengenai lambungnya. Konon karena rasa sakit yang didertanya, Umar bin Khatab tidak bisa berdiri dan terjerembab jatuh. Sebagian jama’ah membawa Khalipah umar kerumahnya dan menelong orang orang yang terluka, sedang mayat Abu Lu’luah di bawa ke Butaiha. Setelah itu para jama’ah kembali kemasjid untuk menunaikan shalat subuh dengan meminta Abdurahman bin Auf  menjadi imam.
Seiring terbitnya matahari pagi, berita mengerikan tersebut tersebar ke seantero madinah. Penduduk ingin mengetahui labih jelas mengenai kejadian yang sangat mengejutkan itu. Bahkan pemuka pemuka dari masing masing kabilah segera berkumpul di halaman rumah umar untuk mengetahui kondisi kesehatanya.
Abdullah bin abas mengungakapkan “aku masih berada ditempat Umar dan dia belum sadarkan diri hingga mata hari terbit. Setelah siuman, sambil berbaring ia bertanya: “Apakah orang orang sudah shalat?”
            “sudah jawab ku.
Setelah itu ia memerintahkanku untuk mencari tahu orang yang telah menusuknya. Aku segera belajar keluar dan menemui para pemuka  kabilah.
            “ saudara saudaraku, “kataku, “Amirilmu’munin ingin menngetahui apakah peristiwa ini merupakan konspirasi kalian?”
Para pemuka kabilah yang mendengar pertanyaan tersebut menjadi kecut, dan serentak berkata, “semoga Allah melindingi kita, kami tidak tahu. Mana mungkin itu akan terjadi. Jika kami tahu, pasti kami bersedia menebusnya dengan nyawa kami atau anak anak kami.”
            “ lalu siapa yang menikam amirilmukminin?” Tanya Abdullah bin Abas  lagi.
            “ia ditikam oleh musuh allah, Abu Lu’luah budak Mughirah bin Syu’bah,” jawab mereka.
Abdullah bin Abbas kembali dalam rumah Khalifah Umar dan menyampaikan kabar orang yang telah menikamnya. “ Alhamdulillah, aku tidak dibunuh oleh seorang muslim, tidak mungkin orang arab akan membunuhku,” kata Umar.

Sebelum menghembuskan nafas terakir, umar bin khatab sempat berwasiat keapada anaknya (Abdullah bin Umar) agar dia dimakamkan disamping sahabat sahabatnya yaitu Nabi SAW dan abu bakar dirumah Aisyah. Untuk itu ia memerintahkan anaknya untuk meminta izin kepada Aisyah agar diperbolehkan dimakamkan disana. Setelah diizinkan, Umar berkata, “ tidak ada yanmg lebih penting bagiku selain tempat peristirahatan terakhirku.”
Selain itu, ia juga berpesan kepada anaknya agar menjual benda benda yang dimilikinya untuk melunasi utang utangnya. Sebab ia tidak ingin meninggalkan dunia dengan membawa kewajiban yang belum diselesaikan.
Umar juga khawatir seabdainya ia meninggal akan dikafani dan dikuburkan secara berlebihan oleh keluarganya. Ia berpesan, “ sederhanaakan kafanku, sebab menurut pandangan Allah ada perbuatanku yang baik, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, meskipun sebenarnya aku tidak pantas menerimanya. Dan sederhanakan liang lahatku dan jangan ada perempuan yang ikut mengantar. Jangan mrmujiku belebihan sebab allah lebih mengetahui tentang aku. Dan kalau membawaku percepatlah langkah kalian.”
Beberapa hari setelah peristiwa penikanman, Umar bin Khatab menghembuskan nafas terakhirnya dan menyisakan duka mendelam dikalangan umat islam. Seandainya lematian Umar bin khatab tidak melalui proses  yang sangat keji dan tragis, mungkin kesedihan tidak akan beerlarut larut dan dendam tidak akan bersarang di dalam dada para keluarga.
Bagai manapun kondisi islam sepeninggalan Umar  saat itu, dapat dikatakan bahwa islam telah mencapai kegemilangan dan ini tidak dapat dilepaskan dari peran uamar bin khatab. Inilah salah satu masterpiece Umar bin Khatabyang berhasil ditorehkan semasa hidupnya.


1 comments:

Post a Comment